josshasrul

Mei 25, 2012

Doa Jurnalis…..

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 1:51 am

Menjadi wartawan di Indonesia memang penuh tantangan dan ketidakpastian. Tantangan karena negara belum sepenuhnya melindungi profesi jurnalis dalam melaksanakan tugas di lapangan. Alih-alih melindungi, justeriu sebagian besar dari peristiwa  kekerasan yang menimpa wartawan, justeru aparat negara lah yang memberikan andil besar. Ketidakpastian hukum inilah  yang membuat para pelaku di profesi jurnalis tidak lagi “garang” dalam mengungkap tabir kebobrokan negara ini. Sebaliknya, perusahaan pemberi pekerjaan juga berlaku sama, tidak memberikan kepastian pada para pekerjanya, lihatlah bagaimana sistem kontrak kerja yang diberlakukan perusahaan telah memberikan ketidakpastian masa depan para jurnalis. Belum lagi soal kesejahteraan yang  sebagian besar gaji wartawan masih di bawah standar.  Dua pekan lalu, Saya senang mendapat kiriman email dari seorang kawan jurnalis. Kiriman itu berupa puisi yang isinya menyentil tentang suka duka jurnalis  Indonesia. Berikut petikan puisi yang tidak diketahui siapa pengarangnya itu…

Doa Jurnalis…..

Tuhan,………….!!!!!!

Bukan maksud kami melupakan pagi,siang,sore dan malam mu,

Sama halnya ketika kami mengacuhkan hujan dan teriknya mataharimu,

 

Tuhan,……..!!!!!!!!

Kami juga tidak bermaksud mengeluh dan merengek karena profesi ini, kami tahu, bahwa profesi inilah yang memilih kami,

 

Tuhan,…..!!!!!!!!

apakah kami egois ketika kami gelisah,manakala lensa ini tak berfungsi,

Risau dan galau, manakala mini DV yang scratch hingga recorder yang macet,

 

Tuhan,………!!!!!!!!

Beberapa sahabat kami, terbujur kaku dalam mimpi, tertanam berkalung nisan, memutih dimakan zaman atas nama kesejahteraan.

 

Tuhan…..!!!!!!

Hari ini, atas nama profesi , kami bertekad untuk terus menyuarakan kebenaran, karena kami yakin bahwa kami adalah bagian dari orang orang yang mencintai negeri ini

 

Tuhan…..!!!!!

Kuatkan kami, seperti KAU kuatkan anak,istri dan orang tua kami, biarkan kami terus mengemban amanah ini,

 

Tuhan…..!!!!!!

Biarkan anak cucu kami,mengingat kami sebagai orang yang berjuang keras untuk hidupnya,karena kami BANGGA

 

Tuhan…..!!!!

Kami Ridho,jika Kami dicaci,dimaki bahkan dicibir oleh sebagian anak bangsa karena mempertahankan idealitas kami.

 

Bahkan ditempat kerja Kami sering diperlakukan Tidak adil oleh pihak Manajemen,karena kami sadar akan misi kami.Berhasdil tidak akan dipuji,gagal dicaci maki,bahkan kalau mati tidak akan dicari!!!!

Jurnalis Bukan Pilihan tetapi Jalan Hidup kami.

Mei 8, 2012

Puisi Autis

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 5:27 am

Aku mencoba menjahit kata demi kata, meski aku tak tahu apa arti dari kata puisi itu. Menggores dengan tangan kiri dan menghapusnya berkali-kali dengan tangan kanan. Seperti goresan kata-kata dari catatan harian seorang Sutardji Calzoum Bachri yang lebih besar dari seorang Chairil Anwar.

Aku tak peduli kata-kata pada nantinya menjadi kata pemberontakan radikal dan revolusioner yang sama sekali tidak menyentuh hakikat bahasa. Tak pulka peduli para penerjemah atau penafsir, menyerap menjadi corong kultur dunia. Mengibaratkan mata kiri dan mata kanan Indonesia yang memberi ruang pada kultur etnik sebagai representasi perwakilan dunia.

Aku menulis tak peduli engkau akan membaca atau tidak. Aku menulis untuk diriku sendiri, mewakilkan diriku untuk duniaku. Menunjukkan diriku pernah ada dan meninggalkan goresan-goresan kegelisahan. Goresan-goresan kebimbangan. Goresan-goresan nafsu birahi. Goresan-goresan tangis, tawa dan air mata. Mewakilkan diriku pada bentukan kata-kata yang menjadi kalimat-kalimat menjemukan.

Aku tau kalian akan susah menebak dan berharap kalian akan mengeryitkan dahi berulang-ulang sampai kalian menyerah untuk membacanya. Aku lebih mengenal diriku sendiri. Mencoba menjadi pujangga autis yang absurd, mencoba menampilkan makna hidup dan manifestasi atas diriku sendiri.

Mei 6, 2012

Tak Seirama

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 1:26 am

Pagi beranjak siang, masih seperti hari-hari sebelumnya. Duduk di beranda depan merenung cukup dalam. Merenungi usia perjalanan hidup bahterah yang masih seumur jagung ini. Mencoba mengingat-ingat fase demi fase, kejadian-demi kejadian sepanjang waktu.

Semua bukan datang tiba-tiba. Dan bukan tanpa alasan. perjalanan waktu telah membuat kegelisahaan membesar dan semakin menakutkan. Di saat menyaksikan kata demi kata, tindakan demi tindakan selalu berbalas dengan amarah. Sungguh pedas dan menyakitkan hati. Canda yang terlontar kerap berubah kebengisan, membuat segalanya benar-benar ruwet.

Kita sadar jika hati telah menjadi kaku sekeras batu, dibentuk dari saling hitung- hitungan jasa dan pekerjaan.

Seolah-olah diri berada jauh jarak dari bayangan, merasa benar-benar hanyalah musafir yang singgah sebentar lalu bersegera mengambil langkah pergi dalam kesedihan, kita tak lebih  menjadi teman bersetubuh saja. Perjalanan yang melahirkan daging itu tak lebih dari terjemahan dari kata-kata semu.

Inikah bunga-bunga kehidupan bahterah itu? Bukan..bukan..sungguh ini tak lagi normal, tak lagi bisa ditiolerir. Saatnya hati  bertindak sebelum hidup benar-benar menjadi hambar. Terasa jika sebelas tahun bersama tapi selalu tidak seirama…..Saya pun selalu berdoa semoga semua baik-baik saja…(edisi minggu galau, kutu kuprettt !!!!)

April 22, 2012

Orang2 Hebat

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 4:00 am

Bertemu orang-orang hebat menjadi bagian terpenting perjalanan karir di trans tv. Sejak bergabung tahun 2004 silam, baru sekali ini saya bertemu orang-orang se kantor , tepatnya di Makassar awal April, dua pekan lalu.  Ada banyak ilmu yang diperoleh dari orang-orang yang saya anggap mumpuni dibidangnya ini, kenyang pengalaman membuat  mereka benar-benar menguasai ilmu pertelevisian, tak hanya soal ilmu jurnalistik elektronik seperti seputar kamera, pernaskahan, editing kualitas gambar,  tetapi juga teknik mempertahankan grafik rate kesukaan pemirsa pada acara televisi.  Semua diulas sedetil-detilnya.

Solid dan komplitnya agenda share jajaran pimpinan (pemred, produses dan korda) membawa kami dijajaran bawah berada pada satu kesimpulan, bahwa, inti kerja di televisi tak lebih seperti pekerja seni yang menggabungkan berbagai unsure, ide, creativity, insting, strong body, dan kepiawaian mengorganisasi  tim. Tak heran satu decade  Trans TV melambung menjadi icon dan gendre pertevisian tanah air, yang menawarkan program segar demi menarik pemirsa.

Namun dipertemuan itu, tak hanya melulu tentang berbau tehnis pekerjaan, tetapi juga membicarakan  soal hak dan kewajiban para awak pekerja, dan ternyata di sesi inilah  unek-unek tumpah ruanh langsung ke para pimpinan. Terutama tentang honorarium dan perolehan kuantitas liputan kontributor di kawasan timur yang tidak sebanyak kawasan barat.

Semua ada solusi, semua ada jawaban,  satu persatu dirumuskan dan janji perbaikan nasib menjadi tranding topic hari itu. Semoga trans tv terus melesat ke depan. Biar semua senang, senang  di atas senang juga di bawah, kok jadi seperti pak La Ode Azis hehehe…. Sekali lgi semua bisa sejahtara  dan semua bisa berjalan lancar.

April 20, 2012

Om Dayat

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 3:38 am

Beliau sering kami panggil om atau paman, padahal dalam garis silsilah keluarga, pria berkumis itu adalah saudara sepupu terdekat kami. Ibunya bersaudara tiri dengan ibuku. Neneknya, isteri pertama  kakek saya adalah seorang perempuan Bone. Mereka menikah tahun 1943 silam menghasilkan lima orang anak, salah satunya bernama Bese, ibu Om Dayat.

 

Sejak kecil, Om Dayat tak begitu besar merasakan kehangatan kasih seorang ayah. Umur 4 tahun ia ditinggal pergi ayahnya, yang memilih bercerai dengan ibunya. Tak lama menjanda,  ibunya menikah lagi, Om Dayat kecil kemudian dititip ke seorang kerabat dekat di Unaaha. Ia berjuang hidup dengan bekerja serabutan agar bisa bersekolah hingga ke jenjang perguruan tinggi. Otak gemilang menghantarnya ke jenjang hidup yang lebih baik, Ia terdaftar menjadi salah satu dosen negeri di daerah ini, lalu menikah dengan seorang wanita berprofesi perawat hingga dikaruniai empat orang anak, masing-masing tiga perempuan dan seorang laki-laki.

 

Setahun yang lalu, Ia berkunjung ke rumah. Berbincang hangat dengan almarhum ayahku. Bercerita tentang banyak hal. Mulai soal bisnis,  pekerjaan hingga soal kondisi kesehatan masing-masing. Mereka berbagi informasi dan saling memberi resep ramuan obat seputar penyakit yang mereka derita. Maklum keduanya memiliki rekam medik penyakit yang serupa. Sama-sama menderita diabetes. Ia sering memberi motivasi kepada ayah untuk tidak terlalu memikirkan penyakit. Kepada Ayah, Om Dayat juga kerap berkelakar jika dirinya tak lagi berpantang-pantang soal makanan, “Jika mau makan ya makan saja,”katanya suatu ketika.

 

Saya tahu semua ungkapan Om Dayat itu, tak lebih demi membuang rasa stres akan penyakitnya. Keceriaan itulah yang ditampilkan, meski sebenarnya derita penyakit benar-benar menghantuinya. Ia punya semangat yang besar untuk terus bertahan, walau kondisi kesehatannya perlahan terus menurun.Seperti halnya ayah, penyakit diabetes satu persatu merontokkan mental dan membuat prustasi penderita. Seperti begitulah menghinggapi hari-hari om dayat. Keceriaan dan keperkasaannya memudar. Penyakit terus menggerogoti dan mempengaruhi organ-organ tubuh lainnya.Diabetes seolah tak memberi ampun pada siapa saja penderitanya. Pelan tapi pasti melumpuhkan organ-organ vital hingga membusuk.

 

Rabu malam, lalu, beliau akhirnya menyerah.  Ia dipanggil yang Maha Kuasa dalam perjalanan pulang dari rumah sakit. Saya mendapat kabar duka ini dari ibu, yang kebetulan tengah menyenguk beliau. Kabar jika dokter yang merawat tak lagi sanggup dan telah memberi status koma pada beliau menjadi benar-benar memukul perasaan keluarga. Bagi Hidayat, malam itu menjadi akhir dari cerita perjalanan hari-hari buram bersama penyakit diabetes, seperti hal yang pernah di alami almarhum ayah. Kini mereka berdua telah pergi dengan tenang menyatu dengan tanah.

April 4, 2012

Narsis di Jalanan

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 11:57 am

Berjalan-jalan di kota ini ada yang sedikit berbeda. Ada banyak baliho kandidat  calon kepala daerah. Mereka narsis dengan berbagai  pose dan ekspresi. Ada yang tersenyum, ada yang merem seperti sedang (maaf) buang air dan ada yang tanpa mimik sama sekali. Ada foto dan nama kandidat, ada juga melampirkan embel-embel slogan peduli rakyat, dan yang lebih mencolok lagi kandidat menulis berbagai kalimat  yang bila dibaca bikin dahi berkerut.

Ingin rasanya berkomentar tentang wajah-wajah di foto-foto itu, tapi setelah dipikir-pikir tidaklah eloknya kalau memberi penilaian soal ukuran wajah, apakah wajah-wajah itu masuk kriteria disukai  kaum hawa atau tidak, atau mungkin semua potongan-potongan wajah itu terbilang pas-pasan. He.hehe.. Memamg akan sedikit sulit menilainya, sebab diantara foto hadir dengan berpasang-pasangan, meski ada pula yang tampil sendiri.

Lalu, apa pula yang pentingya para kandidat-kandidat ini narsis hingga berlomba memerkan wajah-wajah mereka di jalanan. Mungkin sudah tradisi, setiap kali pesta  pemilu (mau itu pilkada, pilres hingga pilcaleg) akan dihelat, ruang public ini acap kali menjadi sasaran para calon. Dan apalagi kalau bukan alasan sosialisasi atau bahasa sederhananya pengenalan pada masyarakat, tentu  dengaan harapan dapat dipilih.

Menjaring massa pemilih memang tidaklah mudah, dan tidak cukup hanya dengan memamerkan wajah di jalanan. Lebih dari itu kerja keras menjaga image diri jauh lebih penting. Dan bukan tidak mungkin banyak wajah-wajah di jalanan itu mungkin sudah dikenal luas masyarakat, apakah mereka yang masih menjabat atau pernah menjabat.  Atau mungkin dikenal dalam dimensi berbeda. Memamerkan wajah berarti siap siaga, dan terpenting tidak memamerkan wajah untuk sebuah sensasi, apalagi untuk mengumbar syahwat politik semata.

Maret 28, 2012

4500 atau 6000

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 2:03 am

Pro kontra rencana pemerintah menaikan harga BBM seolah membuat ubun-ubun kita menguap. Konon rencana ini membuat banyak  orang megap-megap khususnya masyarakat kecil. Ibarat sebentar lagi kiamat. Rakyat kecil banyak terpukul. Nelayan menjerit, tukang ojek menjerit, bahkan indutri rumahan ikut menjerit. Harga BBM bersubsidi yang kini bertengger di 4500 rupiah perliter akan dinaikkan menjadi 6000 rupiah per liter. Bagi pemerintah harga itu terlampau kecil dibanding dibanyak negara-negara lain di dunia, apalagi  harga minyak dunia terus merangkak naik. Ini mungkin alasan klasik pemerintah sejak dahulu kala. Setiap kali harga BBM akan naik, pemerintah pasti akan melontarkan alasan yang sama.

Banyak dari orang-orang pintar negeri ini menanggap pemerintah mengada-ada. Mereka menyodorkan pertanyaan berbeda terkait peenolakan itu seperti, “Bukankah Indonesia juga menjadi penghasil minyak?” Bukankah cadangan sumber daya alam masih melimpah ruah? Entah berapa angka-angkanya riilnya cadangan itu. Hitungan-hitungan ekonomi ini memang menjadi topik pembahasan para wakil rakyat. Dan lagi-lagi menuai pro dan kontra. Televisi mempertontonkan kita terbelahnya pendapat anggata dewan. Sebagai pembanding  media menyuguhkan  simpulan-simpulan  para pakar dan ekonom  yang  menganggap BBM belum saatnya naik. Mereka berdebat penuh tentang hitungan makro dan hitungan mikro ekonomi, yang sekali lagi menganggap pemerintah tak memberi alasan riil soal rencana itu.

Di tengah perdebatan sengit  saat ini,  tentu saja sejarah kembali mengingatkaan kita, dimana di penghujung tahun kepemimpinan SBY periode pertama, pemerintah sempat menaikkan harga BBM. Bahkan, jika tidak salah ingat, saat itu BBM seharga 6000 rupiah sudah resmi diberlakukan  dan rakyat telah membelinya selama beberapa bulan.

Gejolak kenaikan harga BBM saat itu juga sempat terjadi, tapi tak separah penolakan saat ini. Entah mengapa, apakah karena ketika itu pemerintah tengah berspekulasi atau tengah memainkan politik “gantung”? Memainkan perasaan rakyat dengan harapan kembali bisa dipilih di periode ke dua? Atau memang rakyat  benar-benar masih mencintai SBY sehingga tidak peduli dengan kenaikan harga itu? Atau apakah rakyat memang masih sangat jujur, jika harga 6000 rupiah memang masih dapat dijangkau.

Lantas mengapa saat pemerintahan SBY akan kembali menaikan harga 6000 rupiah per liter, begitu besar dan lantang banyak  penolakan  itu? Ada yang berspekulasi SBY tidak lagi pusing karena sudah dua periode memimpin. SBY antek neolib, atau ada pula pendapat pengamat sikap tidak populis SBY ini sebuah gejala kecintaan rakyat para pemerintahan SBY  sudah mulai luntur? Atau ada pula pendapat selanjutnya bahwa citra positif pemerintah saat  ini telah luntur seiring  menjamurnya para pakar partisan, ekonom partisan, pengamat partisan, pemerintah partisan, atau media dan televisi-televisi partisan? hehehe..entahlah

Berbagai alasan dan sangkalan boleh-boleh saja menyeruak. Boleh saja meluber menjadi konsumsi dan opini publik saat ini, meski banyak dari orang-orang Indonesia menyangsikan hitungan matematis para ekonom partisan tadi, karena sudah berbaur sangat politis. Yang jelas, belum lagi kenaikan BBM berlaku, sudah melahirkan  banyak kontroversi di kehidupan sehari-hari kita kini, dimana ada rasa was-was, harga barang sudah duluan naik, ada aksi borong BBM, ada oknum polisi/ TNI yang timbun BBM, ada demo dimana-mana,  ada penjarahan toko, ada pembakaran mobil dinas,   ada polisi beringas pukuli mahasiswa, ada mahasiswa beringas lempari polisi, ada penomena tentara keluar barak,   ada adu urat leher para politisi, ada darah, keringat, ada kemiskinan.

Nah, jauh sebelum  hiruk pikuk protes terhadap istana saat ini,  saya dan mungkin warga di  Kendari sudah terbiasa dengan penomena kelangkaan BBM.

Saya dengan mudah menemukan antrian truk-truk bejubel di seluruh  SPBU di Kota Kendari. Para sopir seolah sudah akrab dengan antraian ini. Mereka sabar menunggu pengisian bahan bakar. Mereka sudah ada yang sejak malam memarkir kendaraan mereka di jalan.

Saya mempunyai kerabat beberapa sopir sopir  truk khusus pengangklut pasir dan tanah timbunan. Mereka  mengaku sudah tiga tahun merana dengan kondisi antrian di SPBU. Ini tak sama dengan kondisi Tiga tahun lalu, dimana antrian sangat longgar, antrian solar bisa hanya lima belas menit sampai setengah jam paling lama di SPBU. Kondisi ini diperolehnya lagi saat ini , dimana antrian sangat padat. sopir terpaksa menunggu seharian penuh demi  mendapatkan isian jatah solar.

Antrian yang lama tentu memiliki dampak ekonomi sistemik pada sopir. Pendapatan dari pekerjaan sopir menurun tajam, apalagi di tengah permintaan pekerjaan angkutan seperti pasir dan timbunan tanan yang cukup banyak. Membuat mereka tidak leluasa untuk bergerak.

Para sopir bernostalgia, dimana  tiga tahun lalu bisa menyelesaikan pekerjaan dengan cepat. Semua itu sudah dengan lembur tambahan. Setoran ke pemilik mobil pun lancar. Tapi kini semua tinggal harapan. Mereka  berharap kondisi kelangkaan solar ini bisa berlalu.

Tak hanya sopir pasir yang mengalami kondisi miris itu. Para sopir pengangkut sampah juga mengalami hal serupa. Sampah-sampah dalam kota terkadang harus ditinggal tak terurus /terbengkalai akibat armada sampah harus antri di SPBU. Saat melintas ke SPBU mobil-mobil ‘pasukan kuning’ Nampak terparkir seperti ular. Di SPBU tapak kuda bay pass kendari antrian truk dan mobil yang menggunakan solar  ‘mengular’ hingga 2 KM  panjangnya. Kondisi yang sama juga  di seluruh kabupaten di Sulawesi Tenggara. Seperti di Kabupaten Kolaka, Konawe Utara, Bombana, Konawe, Buton  dan Kolaka Utara.

Seorang sopir mengaku terpaksa menginap di SPBU hanya untuk menunggu antrian solar. “Saya terpaksa bawa bekal dari rumah,”kata miris. Sebagain besar para sopir merasa lelah dengan kondisi tersebut.Antrian yang panjang ini memang bukan tanpa sebab, bukan pula karena krisis BBM belanda negeri ini. Tapi permainan mafia tambang telah merenggut hak-hak para pekerja sector jasa angkutan di negeri ini. Bisnis solar yang didalangi oknum polisi dan TNI menjadi penyebab utama yang memicu parahnya kelangkaan solar  seluruh daerah di Sultra. Stok solar seolah tidak ada cukupnya. Dari informasi kebutuhan solar di Sultra melonjak seiring eksploitasi tambang. Diperkirakan sampai 400.000 ribu  kiloliter per bulannya. Sebuah angka yang fantastis dalam satu dekade belakangan. Kondisi ini dimanfaatkan para oknum-oknum dari kelas pebisnis yang umumnya dibekingi oknum aparat.

Saya menemui seorang rekan lama. Ia kini berbisnis solar untuk dijual ke industry tambang. Harga solar subsidi yang normal di jual dengan dua kali harga biasa. Harga normal solar dipasaran mencapai Rp 4500 rupiah solar per litare, di jual dengan kisaran Rp 7000- Rp 10.000 per liter ke perusahaan tambang. Kebutuhan solar di industri tambang memang cukup besar sehingga perusahaan-perusahaan tambang tidak ragu untuk membeli solar eceran tersebut.

“Dari pada perusahaan membeli solar harga subsidi yang jumlahnya dibatasi, lebih baik mereka membeli ke pengecer,”katanya, pengecer yang selama ini mendroping solar untuk industry. Ia memberikan informasi terkait lika-liku bisnis barunya itu. Darinya pula saya mengetahui jika Ia hanya menjalankan bisnis seorang anggota TNI di Kendari. Ia menggunakan kendaraan sejenis feroza yang tangkinya diubah dengan kapasaitas 300 liter. Ia pun mengitari seluruh SPBU untuk melakukan pengisian. Modus yang sederhana tapi efektif. “Hanya saja penuh resiko untuk ditangkap petugas,”katanya.

“Tapi Alhamdulillah sudah setahun berbisnis solar ‘illegal’ itu Saya belum pernah tertangkap. Mungkin mereka tau (polisi) kalo saya ini dibeking oknum TNI,”ujarnya sambil tersenyum. Dalam liputan media massa local, polisi telah banyak menangkap para pelaku dari oknum polisi dan tentara. Bahkan polisi membongkar jaringan mafia solar illegal ini dalam modus menimbun solar di sebuah bungker yang dibuat khusus oleh pemiliknya. Sayang kasus-kasus seperti ini hanya menjerat para pengecer, sebaliknya para  pemilik usaha solar seperti oknum petugas  tidak terjangkau hukum.

Jadi naik atau turun harga BBM akan sama saja  akan menyusahkan rakyat manakala pengawasan dan penegakan hukum tidak dijalankan para penegak hukum. Dan yang terpenting rakyat pun tidak harus   mengangkangi aturan yang merugikan rakyat lainnya.

Hilangnya moral dan nurani mmemang telah membuat bangsa ini jatuh ke jurang kemiskinan. Pemerintah, penegak hokum, politisi, pemilik media, ekonom, pengacara, mahasiswa dan semua yang ada dinegeri ini tak lagi saling percaya. Jaminan penegakan hokum dan kondisi moral semua elemen negeri ini termasuk rakyat ternyata telah tersandera dengan sikap korup.

Sungguh sebuah dilema, sungguh sebuah distorsi. Setidaknya begitulah simpulan awal saya.

Maret 26, 2012

Perjuangan Anak Pesisir

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 12:31 am

Saya tiba, saat pagi masih berselimut kabut. Matahari di timur baru saja mau menampakan diri. Warga yang umumnya nelayan baru saja memulai aktifitas mereka. Deru katinting nelayan terdengar di kejauhan mulai riuh saling bersahut-sahutan. Sampan-sampan hilir mudik di sepanjang perairan tak berujung itu. Inilah suasana Desa Woruworu, sebuah desa terpencil di pesisir  Kecamatan Laonti, Kabupaten Konawe Selatan, Provinsi Sulawesi Tenggara.

Pagi itu, memang tak beda dengan hari-hari sebelumnya. Ada nelayan yang pulang dari melaut dengan membawa berkeranjang-keranjang ikan. Ada juga nelayan yang baru berangkat menuju ladang rumput laut yang ramai memadati laut.

Air laut baru saja mulai pasang. Jaraknya masih seratus meter lagi dari bibir dermaga, membuat perahu yang saya tumpangi sedikit terhambat. Amrin (35 tahun) yang mengantar saya  berusaha memutar haluan perahu sejauh setengah mil ke arah selatan, hingga perahu benar-benar mencapai bibir pantai desa.

Di kejauhan puluhan bocah-bocah berkumpul di bibir dermaga. Mereka  tengah menanti air laut pasang untuk bisa menyeberang  ke desa seberang, tepatnya di Desa Tambeanga, tempat sekolah mereka berada.  Air pasang memudahkan kapal berlabuh di dermaga desa.

Seperti hari-hari sebelumnya, mereka menunggu tumpangan kapal yang sesekali merapat di dermaga desa. Kapal bertonase sedang ini milik seorang juragan desa. Kapal sesekali mampir mengambil penumpang di desa-desa pesisir yang akan menuju kota. Para pelajar pun memanfaatkan kesempatan itu untuk menumpang menuju desa seberang, tempat sekolah mereka berada. Namun itu berlaku sesekali saja. Saat kapal absen merapat, anak-anak pesisir ini terpaksa menggunakan perahu sampan ke sekolah. Anak-anak harus mendayung sekitar satu jam untuk mencapai sekolah.

Di tengah keterbatasan infrastruktur jalan raya, perahu memang menjadi moda transportasi andalan satu-satunya di desa itu. Ada jalan darat, tetapi baru berupa jalan setapak, itu pun  harus melewati pegunungan yang jaraknya tiga kali lipat jauhnya. Rata-rata orang tua murid tidak mengijinkan anak-anak mereka melalui jalur darat ini. Jalan melewati gunung banyak resikonya, selain jaraknya yang jauh juga karena banyaknya hewan liar seperti babi hutan dan anoa yang dapat mengancam jiwa anak-anak mereka.

Namun, bersekolah dengan melewati lautan bukan berarti tidak kalah membahayakan. Terlebih saat musim ombak tiba, sebagain besar anak-anak terpaksa memilih tidak bersekolah karena gelombang besar yang bisa mengancam jiwa mereka. Saat musim ombak para orang tua tidak mengijinkan anak-anaknya bersekolah karena ombak besar sangat beresiko.

Melewati laut memang beragam resiko. Ombak air laut terkadang membuat baju anak-anak sekolah basah. Beberapa kejadian menimpa anak-anak yang terpaksa mengalami kapalnya rusak atau terbalik di tengah laut. Meski begitu sebagain besar anak-anak mengaku tidak gentar menghadapi gelombang laut, selain sudah terbiasa, anak-anak nelayan ini juga sudah piawai mengayuh perahu. Satu perahu kecil bahkan bisa ditumpangi empat sampai lima anak. Tergantung ukuran sampannya.

Kondisi infrastruktur yang minim ini berlangsung sejak desa-desa pesisir berdiri puluhan tahun silam dan hingga kini belum lagi mendapat perhatian pemerintah daerah setempat.

Tahun 2002 lalu, ada bantuan perahu untuk mengantar anak-anak sekolah di desa ini. Tapi perahunya rusak dan tidak lagi bisa dipakai. Ini tentu merepotkan anak-anak sekolah di sini karena tidak lagi bisa bersekolah dengan tepat waktu. Dan sudah dapat ditebak jika kondisi ini ikut mempengaruhi kualitas pendidikan anak-anak di pesisir. Pemakluman praktis berlaku bagi anak-anak didik di sana. Namun syukurlah mereka masih mau bersekolah.

Tidak berlebihan jika banyak dari warga yang berharap agar pemerintah dapat segera memberikan bantuan kapal demi masa depan anak-anak didik mereka.

Pembangunan gedung sekolah yang tidak merata di pesisir memang cukup merepotkan warga. Sebagian warga desa Woru-woru harus bersekolah di Desa Tambeanga. Begitu pula sebaliknya, warga Tambeanga harus bersekolah di Desa Woruworu.

Pembangunan yang serampangan ini, tak sebanding dengan besarnya animo anak-anak di pesisir untuk bersekolah . Tahun ajaran baru saja terdapat kurang lebih seratusan murid yang mendaftar. Mungkin karena sekolah ini satu-satunya SMP di sini, sehingga banyak anak-anak pesisir seberang yang bersekolah di sini.Tak hanya itu, harapan agar pemerintah memperbaiki sarana dan prasarana jalan raya yang menghubungkan Desa Woruworu dan Desa Tambeanga segera direalisasikan agar anak-anak bisa terbebas dari keterisoliran.

(Di tengah keterbatasan infrastruktur jalan raya, anak-anak di wilayah pesisir Sulawesi Tenggara terus berjuang untuk sekolah. Mereka terpaksa mengayuh sampan melewati lautan bermil-mil jauhnya. by; josshasrul)

Maret 17, 2012

Hanya Soal kesempatan

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 5:10 am

Kami bertiga bercerita, tentang masa depan. Masa depan  di tempat kerja  masing-masing  yang kami anggap setali tiga uang. Bercerita tentang alur mundur , dimana semua masih begitu bersemangat dan penuh  support. Tapi belakangan justru berlaku sebaliknya, ada stagnan dan rasa frustasi yang besar. Kantor tak lagi berlaku  adil pada setiap orang yang bekerja. Ada ketidakpedulian. Membuat gaalau dan memperbesar hasrat saling menghujat, saling tarik ulur dari akar persoalan. Yang akhirnya kami bertiga berpikir dan  berjalan pada proporsi soal kesempatan .  Kesempatan dalam kesempitan. Kesempatan dalan kesesatan, atau apalah namanya.

Di pekan sebelumnya saya pun bertemu dengan teman yang tak seprofesi. Ia juga mengeluhkan kondisi sama, mengeluhkan tentang hilangnya pertautan sesama orang-orang gerakan. Pergesekan begitu besar menjadi ladang saling curiga. Ada perpecahan besar dari generasi-genarasi para pejuang perlawanan. Ia pun mengeluh jika saatnya tiba semua hanya soal kesempatan. Kesempatan dalam kesempitan, kesempatan dalam kesesatan  yang membuat banyak ddari kawan-kawan yang tersesat jauh ke dalam pergulataan hidup. Intinya  Setiap kesempatan menjadi hal yang dinanti-nanti.  Jika begitu memang hidup menjadi lebih simple, lebih menarik dan lebih berwarna.

 

Maret 16, 2012

Aprisal Adikku

Filed under: Uncategorized — josshasrul @ 12:57 pm

Aprisal, lelaki yang terlahir dengan tubuh tidak normal. Sejak kecil Ia sudah tidak bisa berjalan hingga diusianya yang menginjak tiga puluh tahun. Ia saudara ke empatku. Kata ibu, Aprisal cacat bawaan lahir. Kulitnya putih bersih. Janggut dan kumis tumbuh tak beraturan di sekitar mulutnya. Sebagian besar umurnya dihabiskan di dalam rumah. Ia tak mampu kemana-mana. Tak pernah melihat bioskop, pasar, tempat hiburan. Hanya sekali Ia pernah menginjak  rumah sakit, itu pun saat menjenguk ayah yang terbaring sakit.

Ia baru meninggalkan rumah jika di ikutkan ke kampung halaman. Itu pun se izin ayah atau ibu. Kerena itu pula, Aprisal tak bersekolah. Ia sama sekali tak bisa baca tulis.

Kondisi tidak normal membuatnya mendapat tempat yang begitu istimewa di keluarga kami. Ayah begitu menyayanginya. Ia tak punya permintaan muluk-muluk selain ingin disayangi sepanjang hidupnya. Sebuah permintaan yang sederhana, sesederhana hidupnya kini. Aprisal tak meminta lebih tentang harta, apalagi menuntut warisan. Hampir semua yang di tubuhnya berasal dari barang bekas. Baju dan celana. Seingat saya Ia tak punya sepasang sandal atau sepatu. Kakinya yang cacat tidak memungkinkan untuk memakai alas kaki itu.Ia hanya berharap saudara-saudaraanya menyayanginya dan menuntunnya ketika akan ke kamar mandi, atau saat hendak bepergian.

Sejak kecil Aprisal dikenal manja. Terlebih ketika berada dekat dengan ayah. Ia menjadi pelipur lara di kala ayah senang maupun saat sakit. Kemana ayah pergi Aprisal kerap dibawa. Ayah akan sangat marah jika kami bersikap kasar pada Aprisal. Ia tak ingin kami memarahi apalagi sampai menyentuh tangan. Meski banyak dari saudara-saudaranya kerap melanggar larangan ayah itu.

Di kala senggang, di meja makan atau diberanda tamu Ayah selalu meminta kami untuk selalu menyayangi Aprisal, sampai kapan pun.

Saya teringat suatu ketika ayah terbaring sakit di ranjang kamarnya. Ia memperlihatkan kegundahan hati. Dengan perasaan sedih Ia berujar, “Kasihan adikmu itu, Kelak siapa lagi yang akan menjaganya, siapa lagi yang mengasihinya, saat Saya sudah tidak ada (meninggal dunia). Tolong kalian saling menyanyangi. Saya mohon sayangilah adikmu, janganlah berlaku kasar padanya,”. Perkataan itu diulanginya seminggu sebelum berpulang ke Rahmatullah. Kepadanya, Saya berjanji akan menjaga Aprisal. Berusaha meyakinkannya, bahwa, semuanya akan baik-baik saja.

Aprisal, begitu bahagia, saat mengetahui ayah pulang ke rumah setelah selama dua bulan menjalani perawatan medis di rumah sakit. Ia mencium dan menangis di dekat ayah. Aprisal berujar, “Semoga cepat sembuh pa, nanti kita berpuasa bersamaa lagi,”katanya sembari memijat-mijat tubuh ayah yang kian renta. Ayah terharu dan menitikkan air mata. Aprisal tak pernah mengerti jika semua yang diucapkannya itu adalah akhir cerita bersama sang ayah.

Ayah meninggal dunia, di suatu siang, di bulan Februari. Saya berada di dekatnya. Menuntunnya mengucap Asma Allah. Ibu, kakak dan adik serta cucu semuanya menangis. Semuanya terpukul terutama ibu dan Aprisal. Ibu menangis sedu. Aprisal menangis semalam suntuk. Dua hari itu Ia tak banyak tidur. Ia hanya terbaring dengan mata sembab.Ia menangis di rumah dan dipusara ayah. Benar-benar mengharu biru. Perasaannya berkeping-keping. Karenanya Ia sempat jatuh sakit dan membuat kami semua prihatin.

Halaman Berikutnya »

Tema: Rubric. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.